Latest Post
Tampilkan postingan dengan label KOLOM ANIS MATTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KOLOM ANIS MATTA. Tampilkan semua postingan
07.37
Cinta di Atas Cinta...
Written By Rudiya Oktar on Minggu, 28 April 2013 | 07.37
Perempuan oh perempuan ! Pengalaman bathin para pahlawan dengan
mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi,
misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang
pahlawan? Keagungan!
Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.
Tapi, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri.
Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah YANG MEMBAWANYA SEBAGAI HADIAH. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai.
Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar.
Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “ Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!”
Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.
Tapi, begitu ia menjadi khalifah, tiba-tiba kesadaran spiritualnya justru tumbuh mendadak pada detik inagurasi nya. Iapun bertaubat. Sejak itu ia bertekad untuk berubah dan merubah dinasti Bani Umayyah. Aku takut pada neraka katanya menjelaskan rahasia perubahan itu kepada seorang ulama terbesar zamannya, pionir kodifikasi hadits, yang duduk di sampingnya, Al Zuhri.
Ia memulai perubahan besar itu dari dari dalam dirinya sendiri, istri, anak-anaknya, keluarga kerajaan, hingga seluruh rakyatnya. Kerja keras ini membuahkan hasil; walaupun hanya memerintah dalam 2 tahun 5 bulan, tapi ia berhasil menggelar keadilan, kemakmuran dan kejayaan serta nuansa kehidupan zaman Khulafa Rasyidin. Maka iapun digelari Khalifah Rasyidin kelima.
Tapi itu ada harganya. Fisiknya segera anjlok. Saat itulah istrinya datang membawa kejutan besar; menghadiahkan seorang gadis kepada suaminya untuk dinikahinya (lagi). Ironis, karena Umar sudah lama mencintai dan sangat menginginkan gadis itu, juga sebaliknya. Tapi istrinya, Fatimah, tidak pernah mengizinkannya; atas nama cinta dan cemburu. Sekarang justru sang istrilah YANG MEMBAWANYA SEBAGAI HADIAH. Fatimah hanya ingin memberikan dukungan moril kepada suaminya.
Itu saat terindah dalam hidup Umar, sekaligus saat paling mengharu-biru. Kenangan romantika sebelum saat perubahan bangkit kembali, dan menyalakan api cinta yang dulu pernah membakar segenap jiwanya. Tapi saat cinta ini hadir di jalan pertaubatannya, ketika cita-cita perubahannya belum selesai.
Cinta dan cita bertemu atau bertarung, di sini, di pelataran hati Sang Khalifah, Sang Pembaru. Apa yang salah kalau Umar menikahi gadis itu? Tidak ada! Tapi, Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya masih harus kembali ke dunia perasaan semacam ini, Kata Umar.
Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, berujung dengan keagungan; Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta! Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain.
Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya dengan sendu, Umar, dulu kamu pernah sangat mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang? Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, “ Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya jauh lebih dalam!”
Label:
KOLOM ANIS MATTA
16.34
Mencintai Itu Keputusan
Written By Rudiya Oktar on Kamis, 04 April 2013 | 16.34
Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap
istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja
mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk
mencintainya. Sebentar kemudian iapun berkata, “Kamu kaget melihat semua
ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui di sini.”
Itulah kalimat pertama Utsaman bin Affan ketika menyambut istri
terakhirnya di Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi... sebab memberi adalah pekerjaan... sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat... sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama... sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh... maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun!
Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ. “Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.” Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, “Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia... aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin... aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku, proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang kulakukan padamu... aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu...” Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, “Aku mencintaimu,” kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.
Jalan hidup kita biasanya tidak linier. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Disitu konsistensi diuji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tegah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat lagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati. Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi... sebab memberi adalah pekerjaan... sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat... sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama... sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh... maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun!
Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ. “Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.” Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, “Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia... aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin... aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku, proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang kulakukan padamu... aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu...” Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, “Aku mencintaimu,” kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.
Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.
Jalan hidup kita biasanya tidak linier. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Disitu konsistensi diuji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tegah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.
Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat lagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati. Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.
~ Anis Matta ~
Label:
KOLOM ANIS MATTA
16.22
Cinta Tanpa Definisi
Seperti
angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan
kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau
merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan
bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia
ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi
dahsyat.
Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.
Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.
Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm ~dalam The Art of Loving~ tidak tertarik ~atau juga tidak sanggup~ mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.
Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi. Tapi inilah obrolan manusia sepanjang sejarah masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majenun, Siti Nurbaya atau Cinderela. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya.
Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi, dengan detail-detail nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupannya menjadi sublim: begitu agung tapi juga terlalu rumit. Perang berubah menjadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayap Patah-nya.
Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ pula daya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detail-detail nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.
Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat, Dahsyat, Lembut, Tak terlihat. Penuh haru biru. Padatmakna. Sarat gairah. Dan, anagonis.
Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisi: karena ~kemudian~ semua keajaiban terjawab disini. ~ Anis Matta ~
Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.
Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.
Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari. Mungkin sebab itu Eric Fromm ~dalam The Art of Loving~ tidak tertarik ~atau juga tidak sanggup~ mendefinisikannya. Atau memang cinta sendiri yang tidak perlu definisi bagi dirinya.
Tapi juga terlalu rumit untuk disederhanakan. Tidak ada definisi memang. Dalam agama, atau filsafat atau sastra atau psikologi. Tapi inilah obrolan manusia sepanjang sejarah masa. Inilah legenda yang tak pernah selesai. Maka abadilah Rabiah Al-Adawiyah, Rumi, Iqbal, Tagore atau Gibran karena puisi atau prosa cinta mereka. Abadilah legenda Romeo dan Juliet, Laela Majenun, Siti Nurbaya atau Cinderela. Abadilah Taj Mahal karena kisah cinta di balik kemegahannya.
Cinta adalah lukisan abadi dalam kanvas kesadaran manusia. Lukisan. Bukan definisi. Ia disentuh sebagai sebuah situasi manusiawi, dengan detail-detail nuansa yang begitu rumit. Tapi dengan pengaruh yang terlalu dahsyat. Cinta merajut semua emosi manusia dalam berbagai peristiwa kehidupannya menjadi sublim: begitu agung tapi juga terlalu rumit. Perang berubah menjadi panorama kemanusiaan begitu cinta menyentuh para pelakunya. Revolusi tidak dikenang karena geloranya tapi karena cinta yang melahirkannya. Kekuasaan tampak lembut saat cinta memasuki wilayah-wilayahnya. Bahkan penderitaan akibat kekecewaan kadang terasa manis karena cinta yang melatarinya: seperti Gibran yang kadang terasa menikmati Sayap-sayap Patah-nya.
Kerumitan terletak pada antagoni-antagoninya. Tapi di situ pula daya tariknya tersembunyi. Kerumitan tersebar pada detail-detail nuansa emosinya, berpadu atau berbeda. Tapi pesonanya menyebar pada kerja dan pengaruhnya yang teramat dahsyat dalam kehidupan manusia.
Seperti ketika kita menyaksikan gemuruh badai, luapan banjir atau nyala api, seperti itulah cinta bekerja dalam kehidupan kita. Semua sifat dan cara kerja udara, api dan air juga terdapat dalam sifat dan cara kerja cinta. Kuat, Dahsyat, Lembut, Tak terlihat. Penuh haru biru. Padatmakna. Sarat gairah. Dan, anagonis.
Barangkali kita memang tidak perlu definisi. Toh kita juga tidak butuh penjelasan untuk dapat merasakan terik matahari. Kita hanya perlu tahu cara kerjanya. Cara kerjanya itulah definisi: karena ~kemudian~ semua keajaiban terjawab disini. ~ Anis Matta ~
Label:
KOLOM ANIS MATTA
16.18
Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.
Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.
Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.
Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.
Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.
Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.
Anis Matta
PESONA JIWA RAGA
Pada
mulanya adalah fisik. Seterusnya adalah budi. Raga menantikan
pandanganmu. Jiwa membangun simpatimu. Badan mengeluarkan gelombang
magnetiknya. Jiwa meniupkan kebajikannya.
Begitulah cinta tersurat di langit kebenaran. Bahwa karena cinta jiwa harus selalu berujung dengan sentuhan fisik, maka ia berdiri dalam tarikan dua pesona itu: jiwa dan raga.
Tapi selalu ada bias disini. Ketika ketertarikan fisik disebut cinta tapi kemudian kandas ditengah jalan. Atau ketika cinta tulus pada kebajikan jiwa tak tumbuh berkembang sampai waktu yang lama. Bias dalam jiwa ini terjadi karena ia selalu merupakan senyawa spritualitas dan libido. Kebajikan jiwa merupakan udara yang memberi kita nafas kehidupan yang panjang. Tapi pesona fisik adalah sumbu yang senantiasa menyalakan hasrat asmara.
Biasnya adalah ketidakjujuran yang selalu mendorong kita memenangkan salah satunya: jiwa dan raga. Jangan pernah pakai “atau” disini. Pakailah “dan”: kata sambung yang menghubungkan dua pesona itu. Sebab kita diciptakan dengan fitrah yang menyenangi keindahan fisik. Tapi juga dengan fakta bahwa daya tahan pesona fisik kita ternyata sangat sementara. Lalu apakah yang akan dilakukan sepasang pecinta jika mereka berumur 70 tahun? Bicara. Hanya itu. Dan dua tubuh yang tidur berdampingan di atas ranjang yang sama hanya bisa saling memunggungi. Tanpa selera. Sebab tinggal bicara saja yang bisa mereka lakukan. Begitulah pesona jiwa perlahan menyeruak di antara lapisan-lapisan gelombang magnetik fisik: lalu menyatakan fakta yang tidak terbantahkan bahwa apa yang membuat dua manusia bisa tetap membangun sebuah jangka panjang sesungguhnya adalah kebijakan jiwa mereka bersama.
Seperempat abad lamanya Rasulullah saw hidup bersama Khadijah. Perempuan agung yang pernah mendapatkan titipan salam dari Allah lewat malaikat Jibril ini menyimpan keagungannya begitu apik pada gabungan yang sempurna antara pesona jiwa dan raganya. Dua kali menjanda dengan tiga anak sama sekali tidak mengurangi keindahan fisiknya. Tapi apa yang menarik dari kehidupannya mungkin bukan ketika akhirnya pemuda terhormat, Muhammad bin Abdullah, menerima uluran cintanya. Yang lebih menarik dari itu semua adalah fakta bahwa Rasulullah saw sama sekali tidak pernah berpikir memadu Khadijah dengan perempuan lain. Bahkan ketika Khadijah wafat, Rasulullah saw hampir memutuskan untuk tidak akan menikah lagi.
Bukan cuma itu. Bahkan ketika akhirnya menikah setelah wafatnya Khadijah, dengan janda dan gadis, beliau tetap berkeyakinan bahwa Khadijah tetap tidak tergantikan. “Allah tetap tidak menggantikan Khadijah dengan seseorang yang lebih baik darinya,“ kata Rasulullah saw.
Terlalu agung mungkin. Tapi memang begitu ia ditakdirkan: menjadi cahaya keagungan yang menerangi jalan para pecinta sepanjang hidup. Pengalaman di sekitar kita barangkali justru selalu tidak sempurna. Karena biasanya selalu hanya ada “atau” bukan “dan” dalam pesona kita. Atau bahkan tidak ada “dan” apalagi “atau”. Ketika pesona terbelah seperti itu, cinta pasti berada di persimpangan jalan, selamanya diterpa cobaan, seperti virus yang menggerogoti tubuh kita. Dalam keadaan begitu penderitaan kadang tampak seperti buaya yang menanti mangsa dalam diam.
Anis Matta
Label:
KOLOM ANIS MATTA
02.45
Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung
O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.
Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau, jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana, Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “Sebab tangan yang satu tak kan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, Maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian, jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.
Jadi tidak hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.
SAYAP YANG TAK AKAN PERNAH PATAH
Written By Rudiya Oktar on Selasa, 02 April 2013 | 02.45
Oleh: Anis Matta
Mari kita
bicara tentang orang-orang yang patah hati. Atau kasihnya tak sampai, atau
cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau kisah kasih
Zainuddin dan Hayati yang kandas ketika kapal Vanderwicjk tenggelam. Atau cinta
Qais dan Laila yang membuat mereka ‘majnun’, lalu mati. Atau, jangan-jangan ini
juga cerita tentang cintamu sendiri, yang kandas ditempa takdir, atau layu tak
berbalas.
Itu cerita cinta yang digali dari mata air air mata. Dunia tidak merah jambu disana. Hanya ada Qais yang telah majnun dan meratap di tengah gurun kenestapaan sembari memanggil burung-burung
O burung, adakah yang mau meminjamkan sayap
Aku ingin terbang menjemput sang kekasih hati.
Mari kita ikut berbelasungkawa untuk mereka. Mereka orang-orang baik yang perlu dikasihani. Atau, jika mereka adalah kamu sendiri, maka terimalah ucapan belasungkawaku, dan belajarlah mengasihani dirimu sendiri.
Di alam jiwa, sayap cinta itu sesungguhnya tak pernah patah. Kasih selalu sampai disana, Apabila ada cinta dihati yang satu, pastilah ada cinta di hati yang lain,” kata Rumi, “Sebab tangan yang satu tak kan bisa bertepuk tanpa tangan yang lain”. Mungkin Rumi bercerita tentang apa yang seharusnya. Sementara kita menyaksikan fakta lain.
Kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah, maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta pada-Nya, pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki: Selamanya memberi yang bisa kita berikan, selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai. Dalam makna memberi itu posisi kita sangat kuat: kita tak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah atau melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab disini kita justru sedang melakukan sebuah “pekerjaan jiwa” yang besar dan agung: mencintai.
Ketika kasih tak sampai, atau uluran tangan cinta tertolak, yang sesungguhnya terjadi hanyalah “kesempatan memberi” yang lewat. Hanya itu. Setiap saat kesempatan semacam itu dapat terulang. Selama kita memiliki cinta, memiliki “sesuatu” yang dapat kita berikan, Maka persoalan penolakan atau ketidaksampaian, jadi tidak relevan. Ini hanya murni masalah waktu. Para pecinta sejati selamanya hanya bertanya: “Apakah yang akan kuberikan?” Tentang kepada “siapa” sesuatu itu diberikan, itu menjadi sekunder.
Jadi tidak hanya patah atau hancur karena lemah. Kita lemah karena posisi jiwa kita salah. Seperti ini: kita mencintai seseorang, lalu kita menggantungkan harapan kebahagiaan hidup dengan hidup bersamanya! Maka ketika dia menolak untuk hidup bersama, itu lantas menjadi sumber kesengsaraan. Kita menderita bukan karena kita mencintai. Tapi karena kita menggantungkan sumber kebahagiaan kita pada kenyataan bahwa orang lain mencintai kita.
Label:
KOLOM ANIS MATTA
23.02
Mereka benar-benar hidup. Mereka masih terus berbincang dan bersenda gurau
dalam perjalanan pulang ke rumah. Sehari penuh di sekolah seakan tidak
melelahkan mereka. Atau mungkin - tepatnya - lelah tidak menghilangkan gairah
mereka. Itu pemandangan sehari-hari dari keempat anak-anak saya dan ketiga
temannya yang sama-sama bersekolah di Sekolah Alam. Padahal, karena jarak rumah
dan sekolah yang jauh -sekitar 40 km - mereka harus menghabiskan 10 sampai 12
jam setiap harinya untuk belajar dan perjalanan.
Belajar Untuk Menjadi
Dalam miniatur kehidupan yang natural dan riil seperti itu, anak-anak
benar-benar dipandang sebagai manusia seutuhnya. Bukan sekedar robot cerdas -
yang harus dijejali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan - dimana jam-jam
belajar merupakan saat-saat "pengisian" yang mengerikan. Ledakan
informasi di abad ini barangkali membuat banyak orang panik. Sementara
kehidupan yang telah berubah menjadi medankompetisi yang kejam mendorong mereka berpikir, bahwa untuk bisa bertahan hidup anda harus mengetahui segalanya.
Manusia adalah gabungan yang rumit antara ruh, emosi, akal dan fisik. Setiap
aspek itu, kata Muhammad Quthub, seperti senar gitar yang harus dipetik bersama
untuk melahirkan simfoni kepribadian yang utuh dan indah. Anak-anak bukan
tabung besar yang harus diisi dengan pengetahuan. Mereka adalah senyawa
kehidupan yang rumit dan kompleks. Mereka berubah, berbentuk dan
bermetamorfosis melalui proses-proses yang juga kompleks, dimana pengetahuan
hanyalah salah satu aspeknya.
Begitulah saya menyaksikan anak-anak saya tumbuh dan berkembang, terus menerus
berubah dan menjadi sesuatu yang lain, bersamaan dengan pertambahan usia
sekolah mereka. Gabungan antara pelajaran kelas, latihan outbound, penelitian
lapangan (outing), market day, dan lainnya, telah memberikan pemahaman dan
kesadaran yang relatif lebih utuh tentang kehidupan, membentuk struktur emosi
dan mentalitas yang lebih stabil, serta membangun sikap-sikap keseharian yang
lebih tercerahkan dari waktu ke waktu.
Apa yang mereka pelajari di kelas terasa begitu dekat kehidupan sehari-hari
mereka. Mereka, misalnya, belajar makna uang dan bagaimana menciptakannya
melalui kegiatan market day. Suatu saat anak sulung saya, Hisan, yang kini
duduk di kelas enam, mendapatkan untung sebesar 9000 rupiah dari hasil menjual
juice dalam acara market day. Dia benar-benar merasa menang.
"Sekarang", katanya, "Ican mulai tahu bagaimana caranya bikin
uang".
Namun tetap saja perlu dicatat: Sekolah Alam adalah eksperimen yang belum
selesai. Usia sekolah ini masih terlalu muda. Selain itu, jangan mengharap
anak-anak kita jadi sempurna di usia 12 tahun ketika ia menamatkan sekolah
dasarnya. Tapi itu memang tabiat dunia pendidikan: dunia eksperimentasi tanpa
henti. Disanalah proses kreatifnya berlangsung. Karena lingkungan strategis
terus berubah, maka eksperimen-eksperimennya perlu dikembangkan terus menerus.
Anis Matta
SEKOLAH KEHIDUPAN Oleh Anis Matta
Written By Rudiya Oktar on Senin, 01 April 2013 | 23.02
Ini
adalah tulisan saya sekitar
lima
tahun yang lalu
mengenai sekolah alam …. Semoga bermanfaat…
mengenai sekolah alam …. Semoga bermanfaat…
Sumber
Kegembiraan
Mereka benar-benar hidup. Mereka masih terus berbincang dan bersenda gurau
dalam perjalanan pulang ke rumah. Sehari penuh di sekolah seakan tidak
melelahkan mereka. Atau mungkin - tepatnya - lelah tidak menghilangkan gairah
mereka. Itu pemandangan sehari-hari dari keempat anak-anak saya dan ketiga
temannya yang sama-sama bersekolah di Sekolah Alam. Padahal, karena jarak rumah
dan sekolah yang jauh -sekitar 40 km - mereka harus menghabiskan 10 sampai 12
jam setiap harinya untuk belajar dan perjalanan.
Sekolah telah menjadi pusat
kehidupan mereka saat ini. Mereka benar-benar
menikmati pusat kehidupan itu. Bahkan waktu-waktu mereka di rumah pun digunakan
untuk membicarakan kehidupan mereka di sekolah. Sekolah bukan lagi beban.
Sekolah adalah realitas kehidupan yang mereka jalani dengan penghayatan penuh.
Sekolah adalah sumber kegembiraan. Bukan sumber stress yang biasanya
membuat mereka kehilangan gairah.
menikmati pusat kehidupan itu. Bahkan waktu-waktu mereka di rumah pun digunakan
untuk membicarakan kehidupan mereka di sekolah. Sekolah bukan lagi beban.
Sekolah adalah realitas kehidupan yang mereka jalani dengan penghayatan penuh.
Sekolah adalah sumber kegembiraan. Bukan sumber stress yang biasanya
membuat mereka kehilangan gairah.
Disini kehidupan dihadirkan dalam
sebuah tata ruang dengan lansekap yang ditata
sedemikian rupa agar tetap natural dan tampak riil. Dengan menggunakan konsep fun
learning, Sekolah Alam telah mengubah sekolah menjadi sebuah miniatur
kehidupan yang bukan saja natural dan riil, tapi juga indah dan nyaman. Proses
belajar mengajar berubah menjadi aktivitas kehidupan riil yang dihayati dengan
penuh kegembiraan. Itu membantu anak-anak menikmati masa-masa awal pertumbuhan,
dan membangun imaji-imaji positif tentang kehidupan dan bumi yang mereka huni.
sedemikian rupa agar tetap natural dan tampak riil. Dengan menggunakan konsep fun
learning, Sekolah Alam telah mengubah sekolah menjadi sebuah miniatur
kehidupan yang bukan saja natural dan riil, tapi juga indah dan nyaman. Proses
belajar mengajar berubah menjadi aktivitas kehidupan riil yang dihayati dengan
penuh kegembiraan. Itu membantu anak-anak menikmati masa-masa awal pertumbuhan,
dan membangun imaji-imaji positif tentang kehidupan dan bumi yang mereka huni.
Itu
pesona pertama yang mengantar saya ke Sekolah Alam!!!
Persepsi kita tentang kehidupan,
tentang dunia, tentang bumi yang kita huni,
yang kelak melandasi sikap-sikap kita dalam menjalani hidup, sesungguhnya
terbentuk di masa awal pertumbuhan itu. Seperti apa kita mempersepsi kehidupan,
dunia dan bumi yang kita huni pada awal kehidupan kita, seperti itulah kita
akan menjalaninya. Imaji-imaji positif akan melahirkan energi, semangat dan
gairah kehidupan. Begitu juga sebaliknya. Maka setiap "luka persepsi"
pada masa itu, kelak akan mewariskan "luka emosi" dalam kehidupan
kita. Dan setiap luka emosi, kelak akan mewariskan "gangguan
pensikapan" dalam keseluruhan kepribadian kita. Itu sebabnya anak-anak
yang bahagia di masa kecil jauh lebih berpeluang untuk berbahagia di masa
dewasa dan tuanya kelak.
yang kelak melandasi sikap-sikap kita dalam menjalani hidup, sesungguhnya
terbentuk di masa awal pertumbuhan itu. Seperti apa kita mempersepsi kehidupan,
dunia dan bumi yang kita huni pada awal kehidupan kita, seperti itulah kita
akan menjalaninya. Imaji-imaji positif akan melahirkan energi, semangat dan
gairah kehidupan. Begitu juga sebaliknya. Maka setiap "luka persepsi"
pada masa itu, kelak akan mewariskan "luka emosi" dalam kehidupan
kita. Dan setiap luka emosi, kelak akan mewariskan "gangguan
pensikapan" dalam keseluruhan kepribadian kita. Itu sebabnya anak-anak
yang bahagia di masa kecil jauh lebih berpeluang untuk berbahagia di masa
dewasa dan tuanya kelak.
Saya hanya ingin anak-anak saya
menikmati masa-masa awal "perkenalan"
mereka dengan kehidupan, dunia dan bumi yang mereka huni. Mereka tidak
dilahirkan untuk memikul obsesi-obsesi saya sebagai orang tua. Mereka
dilahirkan untuk kehidupan mereka sendiri. Tugas saya adalah memfasilitasi mereka
untuk mengenal dunia dan kehidupan dimana mereka ditakdirkan menjalaninya.
Walaupun mungkin saja mereka mendahului saya menemui ajal, tapi pada galibnya
sayalah yang akan mendahului mereka. Jadi rasanya saya tidak akan menyertai
mereka dalam keseluruhan waktu yang akan mereka lalui di dunia. Maka biarlah
kuantar mereka sampai ke gerbang kehidupan, dan kukatakan pada mereka:
"Inilah kehidupan yang dikaruniakan Allah kepadamu, wahai anak-anakku.
Kalian hanya harus mensyukurinya. Dan itulah alasan mengapa kalian harus
gembira menjalaninya".
mereka dengan kehidupan, dunia dan bumi yang mereka huni. Mereka tidak
dilahirkan untuk memikul obsesi-obsesi saya sebagai orang tua. Mereka
dilahirkan untuk kehidupan mereka sendiri. Tugas saya adalah memfasilitasi mereka
untuk mengenal dunia dan kehidupan dimana mereka ditakdirkan menjalaninya.
Walaupun mungkin saja mereka mendahului saya menemui ajal, tapi pada galibnya
sayalah yang akan mendahului mereka. Jadi rasanya saya tidak akan menyertai
mereka dalam keseluruhan waktu yang akan mereka lalui di dunia. Maka biarlah
kuantar mereka sampai ke gerbang kehidupan, dan kukatakan pada mereka:
"Inilah kehidupan yang dikaruniakan Allah kepadamu, wahai anak-anakku.
Kalian hanya harus mensyukurinya. Dan itulah alasan mengapa kalian harus
gembira menjalaninya".
Belajar Untuk Menjadi
Dalam miniatur kehidupan yang natural dan riil seperti itu, anak-anak
benar-benar dipandang sebagai manusia seutuhnya. Bukan sekedar robot cerdas -
yang harus dijejali dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan - dimana jam-jam
belajar merupakan saat-saat "pengisian" yang mengerikan. Ledakan
informasi di abad ini barangkali membuat banyak orang panik. Sementara
kehidupan yang telah berubah menjadi medankompetisi yang kejam mendorong mereka berpikir, bahwa untuk bisa bertahan hidup anda harus mengetahui segalanya.
Begitulah sekolah-sekolah kita
didirikan sebagai tempat menjajakan
"barang-barang" yang bernama ilmu pengetahuan, yang harus
"dimiliki" setiap orang agar bisa bertahan hidup. Maka kita mengagumi
"kecerdasan". Karena itulah mata uang paling bergengsi yang digunakan
membeli "barang-barang" tersebut. Dan belajar adalah proses
transaksinya.
"barang-barang" yang bernama ilmu pengetahuan, yang harus
"dimiliki" setiap orang agar bisa bertahan hidup. Maka kita mengagumi
"kecerdasan". Karena itulah mata uang paling bergengsi yang digunakan
membeli "barang-barang" tersebut. Dan belajar adalah proses
transaksinya.
Di sekolah seperti itu anak-anak
belajar "menguasai" pelajaran. Bukan
menjadi sesuatu dengan pelajaran tersebut. Makin banyak pelajaran yang dapat
mereka kuasai, makin baik transaksi mereka. Maka kita sekolah-sekolah berburu
anak-anak cerdas, yang dapat melakukan banyak transaksi.
menjadi sesuatu dengan pelajaran tersebut. Makin banyak pelajaran yang dapat
mereka kuasai, makin baik transaksi mereka. Maka kita sekolah-sekolah berburu
anak-anak cerdas, yang dapat melakukan banyak transaksi.
Tapi yang kemudian kita saksikan
justru sebuah ironi. Anak-anak itu tidak mengalami
transformasi pembelajaran. Pelajaran matematika, misalnya, tidak serta merta
membuat mereka dapat berpikir logis. Pelajaran sejarah tidak memberi mereka
kesadaran dan emosi akan identitas kolektif. Pelajaran bahasa bahkan tidak
membantu mereka berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
transformasi pembelajaran. Pelajaran matematika, misalnya, tidak serta merta
membuat mereka dapat berpikir logis. Pelajaran sejarah tidak memberi mereka
kesadaran dan emosi akan identitas kolektif. Pelajaran bahasa bahkan tidak
membantu mereka berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Belajar adalah proses berubah secara
konstan!!!
Pengetahuan bukan barang yang harus
kita miliki. Pengetahuan adalah sebuah
fungsi. Ia adalah cahaya yang menerangi ruang kesadaran batin kita. Seperti
umumnya cahaya yang berpendar-pendar di tengah ruang gelap, kita hanya bisa
bergerak secara baik dalam jengkal-jengkal ruang yang dibingkai cahaya. Sebagai
sebuah fungsi kita harus mempelajari semua pengetahuan yang membantu kita
berubah menjadi lebih baik. Belajar adalah proses menggunakan pengetahuan
sebagai penuntun perjalanan mendekati kesempurnaan secara konstan. Belajar
adalah proses menjadi secara konstan. Karena menjadi merupakan proses yang
tidak pernah berakhir, maka belajar adalah satu-satunya proses kehidupan yang
tidak pernah selesai.
fungsi. Ia adalah cahaya yang menerangi ruang kesadaran batin kita. Seperti
umumnya cahaya yang berpendar-pendar di tengah ruang gelap, kita hanya bisa
bergerak secara baik dalam jengkal-jengkal ruang yang dibingkai cahaya. Sebagai
sebuah fungsi kita harus mempelajari semua pengetahuan yang membantu kita
berubah menjadi lebih baik. Belajar adalah proses menggunakan pengetahuan
sebagai penuntun perjalanan mendekati kesempurnaan secara konstan. Belajar
adalah proses menjadi secara konstan. Karena menjadi merupakan proses yang
tidak pernah berakhir, maka belajar adalah satu-satunya proses kehidupan yang
tidak pernah selesai.
Manusia adalah gabungan yang rumit antara ruh, emosi, akal dan fisik. Setiap
aspek itu, kata Muhammad Quthub, seperti senar gitar yang harus dipetik bersama
untuk melahirkan simfoni kepribadian yang utuh dan indah. Anak-anak bukan
tabung besar yang harus diisi dengan pengetahuan. Mereka adalah senyawa
kehidupan yang rumit dan kompleks. Mereka berubah, berbentuk dan
bermetamorfosis melalui proses-proses yang juga kompleks, dimana pengetahuan
hanyalah salah satu aspeknya.
Dalam konteks itu, maka semua
pengetahuan yang mereka butuhkan untuk membangun
kehidupan yang lebih baik harus mereka pelajari. Sebaliknya, semua pengetahuan
yang tidak mempunyai fungsi spesifik dalam kehidupan riil mereka tidak perlu
mereka pelajari. Jenis pengetahuan terakhir ini, kata Umar Bin Khattab, bukan
aib untuk tidak diketahui. Itu sebabnya Rasulullah saw mengajarkan kita sebuah
doa: "Ya Allah ajari kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan beri kami
manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan pada kami". Dengan begitu,
pengetahuan bekerja dalam kehidupan mereka, sebagai sumber pencerahan hidup.
kehidupan yang lebih baik harus mereka pelajari. Sebaliknya, semua pengetahuan
yang tidak mempunyai fungsi spesifik dalam kehidupan riil mereka tidak perlu
mereka pelajari. Jenis pengetahuan terakhir ini, kata Umar Bin Khattab, bukan
aib untuk tidak diketahui. Itu sebabnya Rasulullah saw mengajarkan kita sebuah
doa: "Ya Allah ajari kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan beri kami
manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan pada kami". Dengan begitu,
pengetahuan bekerja dalam kehidupan mereka, sebagai sumber pencerahan hidup.
Begitulah saya menyaksikan anak-anak saya tumbuh dan berkembang, terus menerus
berubah dan menjadi sesuatu yang lain, bersamaan dengan pertambahan usia
sekolah mereka. Gabungan antara pelajaran kelas, latihan outbound, penelitian
lapangan (outing), market day, dan lainnya, telah memberikan pemahaman dan
kesadaran yang relatif lebih utuh tentang kehidupan, membentuk struktur emosi
dan mentalitas yang lebih stabil, serta membangun sikap-sikap keseharian yang
lebih tercerahkan dari waktu ke waktu.
Apa yang mereka pelajari di kelas terasa begitu dekat kehidupan sehari-hari
mereka. Mereka, misalnya, belajar makna uang dan bagaimana menciptakannya
melalui kegiatan market day. Suatu saat anak sulung saya, Hisan, yang kini
duduk di kelas enam, mendapatkan untung sebesar 9000 rupiah dari hasil menjual
juice dalam acara market day. Dia benar-benar merasa menang.
"Sekarang", katanya, "Ican mulai tahu bagaimana caranya bikin
uang".
Pembelajaran seperti itu tentu saja
menghadirkan pengetahuan dalam kehidupan
nyata mereka. Pengetahuan bekerja pada fungsinya: membimbing mereka menjalani
hidup. Itu sebabnya setiap pertambahan pengetahuan melahirkan
perubahan-perubahan baru dalam kehidupan mereka. Mereka menjadi lebih baik.
Mereka menjadi lebih tercerahkan.
nyata mereka. Pengetahuan bekerja pada fungsinya: membimbing mereka menjalani
hidup. Itu sebabnya setiap pertambahan pengetahuan melahirkan
perubahan-perubahan baru dalam kehidupan mereka. Mereka menjadi lebih baik.
Mereka menjadi lebih tercerahkan.
Tradisi Ilmiah, Bukan Prestasi
Belajar
Sekolah bukanlah lapangan pacuan
kuda!!!
Tapi
ada sekolah yang dirancang sebagai lapangan pacuan kuda. Disana anak-anak
dipacu untuk mengetahui lebih banyak. Bukan untuk menjadi sesuatu yang lebih
baik. Tapi untuk mengalahkan orang lain. Kemajuan belajar diukur dengan capaian
angka-angka. Bukan dengan perubahan-perubahan mendasar pada cara berpikir,
struktur emosi dan pola sikap.
dipacu untuk mengetahui lebih banyak. Bukan untuk menjadi sesuatu yang lebih
baik. Tapi untuk mengalahkan orang lain. Kemajuan belajar diukur dengan capaian
angka-angka. Bukan dengan perubahan-perubahan mendasar pada cara berpikir,
struktur emosi dan pola sikap.
Di sekolah seperti itu kasta-kasta
baru dibangun berdasarkan kecerdasan!!!
Barangkali tidak sepenuhnya salah
untuk membagi murid-murid kedalam kelas-kelas
berbeda berdasarkan tingkat kecerdasan. Yang salah adalah tren pembelajaran
yang kita kembangkan. Secara tidak sadar sebenarnya sekolah semacam itu
mengembangkan tren pembelajaran transaksional: anak-anak membayar mahal untuk
mendapatkan guru terbaik, agar bisa menguasai semua pelajaran dan lulus dengan
angka terbaik.
berbeda berdasarkan tingkat kecerdasan. Yang salah adalah tren pembelajaran
yang kita kembangkan. Secara tidak sadar sebenarnya sekolah semacam itu
mengembangkan tren pembelajaran transaksional: anak-anak membayar mahal untuk
mendapatkan guru terbaik, agar bisa menguasai semua pelajaran dan lulus dengan
angka terbaik.
Sekolah semacam itu biasanya
melahirkan anak-anak pintar, bukan pembelajar
apalagi ilmuwan. Mereka mempunyai prestasi belajar yang baik. Tapi tidak
memiliki tradisi ilmiah yang kokoh. Kalau kelak mereka mendapatkan gelar doctor,
prestasinya pasti summa cum laude. Tapi disertasi doktornya mungkin
merupakan karya ilmiahnya yang pertama dan terakhir. Secara intelektual mereka
mengalami diskontinyu. Mereka mungkin menduduki banyak jabatan akademik yang
terhormat. Tapi tidak akan pernah punya waktu dan perhatian untuk menggarap
karya ilmiah yang monumental.
apalagi ilmuwan. Mereka mempunyai prestasi belajar yang baik. Tapi tidak
memiliki tradisi ilmiah yang kokoh. Kalau kelak mereka mendapatkan gelar doctor,
prestasinya pasti summa cum laude. Tapi disertasi doktornya mungkin
merupakan karya ilmiahnya yang pertama dan terakhir. Secara intelektual mereka
mengalami diskontinyu. Mereka mungkin menduduki banyak jabatan akademik yang
terhormat. Tapi tidak akan pernah punya waktu dan perhatian untuk menggarap
karya ilmiah yang monumental.
Ada beda yang teramat jauh antara tradisi ilmiah dan prestasi belajar. Prestasi belajar yang
biasanya diukur secara kuantitatif melalui ujian, bukanlah indikator
terbentuknya tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah diukur melalui sikap seseorang terhadap
pembelajaran, pengembangan intelektual berkesinambungan, penggunaan cara
berpikir ilmiah dalam penyelesaian masalah, pembentukan keterampilan
intelektual seperti bahasa oral dan tulisan, aktualisasi intelektual
berkesinambungan, dorongan berkarya yang konstan.
biasanya diukur secara kuantitatif melalui ujian, bukanlah indikator
terbentuknya tradisi ilmiah. Tradisi ilmiah diukur melalui sikap seseorang terhadap
pembelajaran, pengembangan intelektual berkesinambungan, penggunaan cara
berpikir ilmiah dalam penyelesaian masalah, pembentukan keterampilan
intelektual seperti bahasa oral dan tulisan, aktualisasi intelektual
berkesinambungan, dorongan berkarya yang konstan.
Tren inilah yang hendak dibangun di
Sekolah Alam. Sekolah ini menghapus sistem
rangking, yang bukan saja memicu pembentukan kasta baru berdasarkan kecerdasan,
tapi juga memandang potensi setiap siswa secara sama dan mengabaikan keunikan
dan diferensiasi individual pada bakat, minat dan intelejensi. Disini siswa
dipacu untuk tumbuh maksimal pada pusat keunggulan intelejensinya, yang menyatu
bersama bakat dan minatnya. Tidak ada persaingan antar siswa yang dilakukan
dengan standar yang sama. Sebab tujuan pembelajarannya membangun tradisi
ilmiahnya, bukan sekedar memicu prestasi belajar. Siswa-siswa itu bukan peserta
lomba pacuan kuda. Mereka dididik untuk menjadi pembelajar yang optimal dalam
pembelajarannya.
rangking, yang bukan saja memicu pembentukan kasta baru berdasarkan kecerdasan,
tapi juga memandang potensi setiap siswa secara sama dan mengabaikan keunikan
dan diferensiasi individual pada bakat, minat dan intelejensi. Disini siswa
dipacu untuk tumbuh maksimal pada pusat keunggulan intelejensinya, yang menyatu
bersama bakat dan minatnya. Tidak ada persaingan antar siswa yang dilakukan
dengan standar yang sama. Sebab tujuan pembelajarannya membangun tradisi
ilmiahnya, bukan sekedar memicu prestasi belajar. Siswa-siswa itu bukan peserta
lomba pacuan kuda. Mereka dididik untuk menjadi pembelajar yang optimal dalam
pembelajarannya.
Pendidikan Untuk Zaman
Yang Berubah
Yang Berubah
Waktu
adalah variabel lain. Persepsi kita tentang waktu mempengaruhi pola didik
kita. Kita tidak mendidik anak-anak kita untuk hidup pada zaman yang telah kita
lalui atau yang telah dilalui orang lain atau peradaban lain. Mereka memiliki
zamannya sendiri. Pendidikan bertujuan menyiapkan mereka untuk menghadapi zaman
mereka sendiri.
kita. Kita tidak mendidik anak-anak kita untuk hidup pada zaman yang telah kita
lalui atau yang telah dilalui orang lain atau peradaban lain. Mereka memiliki
zamannya sendiri. Pendidikan bertujuan menyiapkan mereka untuk menghadapi zaman
mereka sendiri.
Anak-anak kita hidup pada sebuah
zaman dimana pengetahuan berkembang pesat dan
merubah sendi-sendi kehidupan kita secara fundamental dan sangat cepat. Durasi
perubahan-perubahan besar dalam kehidupan kita berlangsung kilat, karena
faktor-faktor perubahnya bekerja simultan dan cepat. Ini menimbulkan kegamangan
dan disorientasi dalam dunia pendidikan.
merubah sendi-sendi kehidupan kita secara fundamental dan sangat cepat. Durasi
perubahan-perubahan besar dalam kehidupan kita berlangsung kilat, karena
faktor-faktor perubahnya bekerja simultan dan cepat. Ini menimbulkan kegamangan
dan disorientasi dalam dunia pendidikan.
Faktanya adalah kita tidak punya
kendali atas zaman yang kelak akan dilalui
anak-anak kita kelak. Kita tidak punya kendali atas perubahan-perubahan itu.
Mungkin sekali kita bahkan sudah tidak ada ketika mereka mengalami
perubahan-perubahan besar itu. Tapi adalah juga fakta bahwa semakin cepat dan
sering suatu perubahan terjadi, semakin kita membutuhkan pegangan hidup yang
bersifat permanen, yang tidak ikut berubah dalam perubahan-perubahan itu.
anak-anak kita kelak. Kita tidak punya kendali atas perubahan-perubahan itu.
Mungkin sekali kita bahkan sudah tidak ada ketika mereka mengalami
perubahan-perubahan besar itu. Tapi adalah juga fakta bahwa semakin cepat dan
sering suatu perubahan terjadi, semakin kita membutuhkan pegangan hidup yang
bersifat permanen, yang tidak ikut berubah dalam perubahan-perubahan itu.
Jadi yang dibutuhkan anak-anak kita
adalah pegangan permanen itu. Yaitu
keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai agama. Agama mengajarkan mereka
hakikat-hakikat besar dalam kehidupan mereka: tentang asal usul mereka, tentang
tujuan hidup mereka, tentang nilai-nilai yang harus membimbing hidup mereka,
tentang faktor-faktor permanen yang membentuk kualitas hidup mereka, yaitu
penerimaan Allah, manfaat sosial dan pertumbuhan berkesinambungan.
keyakinan-keyakinan dan nilai-nilai agama. Agama mengajarkan mereka
hakikat-hakikat besar dalam kehidupan mereka: tentang asal usul mereka, tentang
tujuan hidup mereka, tentang nilai-nilai yang harus membimbing hidup mereka,
tentang faktor-faktor permanen yang membentuk kualitas hidup mereka, yaitu
penerimaan Allah, manfaat sosial dan pertumbuhan berkesinambungan.
Apabila mereka belajar tentang itu
semua dengan benar, mereka tumbuh pada pusat
kehidupan yang benar dan pasti. Tapi itu saja tidak cukup. Mereka juga
membutuhkan beberapa keterampilan dasar yang diperlukan untuk bertahan dan
bertumbuh pada semua situasi. Sebagiannya merupakan keterampilan intelektual,
sebagiannya lagi merupakan keterampilan emosional, sebagiannya lagi merupakan
keterampilan fisik.
kehidupan yang benar dan pasti. Tapi itu saja tidak cukup. Mereka juga
membutuhkan beberapa keterampilan dasar yang diperlukan untuk bertahan dan
bertumbuh pada semua situasi. Sebagiannya merupakan keterampilan intelektual,
sebagiannya lagi merupakan keterampilan emosional, sebagiannya lagi merupakan
keterampilan fisik.
Sisanya biarlah mereka yang
memperlajarinya sendiri!!
Itu yang dikembangkan Sekolah Alam. Membangun kemampuan-kemampuan dasar pada
anak yang membuatnya proaktif dan adaptif terhadap perubahan-perubahan
lingkungan. Kemampuan berpikir logis misalnya. Jika seorang anak mampu berpikir
logis, itu mungkin lebih penting ketimbang sekedar mendapatkan angka tinggi
dalam pelajaran matematika. Sebab kemampuan itu yang memberika kekuatan
"mencerna" masalah-masalah hidupnya. Begitu juga latihan outbound.
Disini mereka melatih keberanian, kesabaran, keuletan, kerjasama tim, kepemimpinan.
Latihan ini membangun struktur mentalitas mereka secara kuat yang membuat
mereka tahan terhadap goncangan-goncangan hidup.
Itu yang dikembangkan Sekolah Alam. Membangun kemampuan-kemampuan dasar pada
anak yang membuatnya proaktif dan adaptif terhadap perubahan-perubahan
lingkungan. Kemampuan berpikir logis misalnya. Jika seorang anak mampu berpikir
logis, itu mungkin lebih penting ketimbang sekedar mendapatkan angka tinggi
dalam pelajaran matematika. Sebab kemampuan itu yang memberika kekuatan
"mencerna" masalah-masalah hidupnya. Begitu juga latihan outbound.
Disini mereka melatih keberanian, kesabaran, keuletan, kerjasama tim, kepemimpinan.
Latihan ini membangun struktur mentalitas mereka secara kuat yang membuat
mereka tahan terhadap goncangan-goncangan hidup.
Eskperimen
Yang Belum
Selesai
Selesai
Namun tetap saja perlu dicatat: Sekolah Alam adalah eksperimen yang belum
selesai. Usia sekolah ini masih terlalu muda. Selain itu, jangan mengharap
anak-anak kita jadi sempurna di usia 12 tahun ketika ia menamatkan sekolah
dasarnya. Tapi itu memang tabiat dunia pendidikan: dunia eksperimentasi tanpa
henti. Disanalah proses kreatifnya berlangsung. Karena lingkungan strategis
terus berubah, maka eksperimen-eksperimennya perlu dikembangkan terus menerus.
Yang penting adalah apresiasi yang
kita berikan terhadap setiap eksperimen
baru. Dan buku (Sekolah Impian) yang sekarang hadir di hadapan pembaca ini
adalah sebentuk apresiasi terhadap eksperimen yang belum selesai itu. Buku ini
merupakan catatan kesan dari semua orang yang terlibat dalam eksperimen
tersebut.
baru. Dan buku (Sekolah Impian) yang sekarang hadir di hadapan pembaca ini
adalah sebentuk apresiasi terhadap eksperimen yang belum selesai itu. Buku ini
merupakan catatan kesan dari semua orang yang terlibat dalam eksperimen
tersebut.
Ada
penginisiatif awal, pimpinan
lembaga, guru dan orang tua murid. Dengan mengangkat
berbagai aspek dari proses pembelajaran di Sekolah Alam, buku ini bertujuan
mengangkat eksperimen-eksperimen pendidikan Sekolah Alam sebagai sebuah
diskursus pendidikan.
berbagai aspek dari proses pembelajaran di Sekolah Alam, buku ini bertujuan
mengangkat eksperimen-eksperimen pendidikan Sekolah Alam sebagai sebuah
diskursus pendidikan.
Eksperimen-eksperimen itu tidak
harus benar. Tapi pahala memulainya telah diraih,
sekarang tinggal merebut pahala perbaikan dan penyempurnaannya. Apa yang
penting dalam sebuah eksperimen bukanlah hasilnya. Tapi bibit yang ditanam
dalam eksperimen itulah yang kelak akan berbuah: niat baik, kerja keras, obsesi
kesempurnaan, kelapangan dada menerima kritik dan kerendahan hati merima
pujian, tidak cepat puas dengan keberhasilan-keberhasilan kecil, serta anggapan
yang tidak pernah hilang bahwa semua sukses dalam eksperimen ini semata-mata
merupakan rahmat Allah, bukan karena kehebatan kita.
sekarang tinggal merebut pahala perbaikan dan penyempurnaannya. Apa yang
penting dalam sebuah eksperimen bukanlah hasilnya. Tapi bibit yang ditanam
dalam eksperimen itulah yang kelak akan berbuah: niat baik, kerja keras, obsesi
kesempurnaan, kelapangan dada menerima kritik dan kerendahan hati merima
pujian, tidak cepat puas dengan keberhasilan-keberhasilan kecil, serta anggapan
yang tidak pernah hilang bahwa semua sukses dalam eksperimen ini semata-mata
merupakan rahmat Allah, bukan karena kehebatan kita.
Semoga Allah menerima amal-amal
kita, memaafkan kelalaian-kelalaian kita, dan
menyempurnakan kekurangan-kekurangan kita. Semoga keterlibatan kita dalam dunia
pendidikan ini, dalam posisi sebagai apapun, menjadi amal unggulan yang akan
mengantar kita meraih ridha Allah dan surga-Nya kelak. Amin.
menyempurnakan kekurangan-kekurangan kita. Semoga keterlibatan kita dalam dunia
pendidikan ini, dalam posisi sebagai apapun, menjadi amal unggulan yang akan
mengantar kita meraih ridha Allah dan surga-Nya kelak. Amin.
Jakarta, 22
September 2003
September 2003
Anis Matta
Label:
KOLOM ANIS MATTA
MENU LASKAR PENA SUKOWATI
- CERITA KITA (7)
- GALERY FOTO (9)
- GORESAN PENAKU (10)
- Kegiatan Kita (4)
- KISAH (4)
- KOLOM ABG (1)
- KOLOM ANIS MATTA (6)
- NEWS (34)
- posting terbaru (5)
- SAINS (1)
- SASTRA (2)
- TOKOH (20)
- TSAQOFAH ISLAMIYAH (2)
- WIRAUSAHA (6)
- ZONA MUSLIMAH (3)
KAPAL MAINAN
PEMESANAN 081364021104
FADHLAN FURNITURE
Melayani desain dan pemesanan mebel interior. CP 081364021104
Entri Populer
-
Kelompok hewan tidak bertulang belakang (invertebrata) merupakan kelompok hewan yang paling banyak di muka bumi, hampir 2 juta jenis ya...
-
Bismillah.. Hari ini Jum'at 5 April 2013 tepat pukul 02.00 dini hari nanti waktu mesir. Semua Team KNRP akan berangkat dar...
-
Oleh : Ayatul Huda (Mahasiswi jurusan syari'ah islamiyah universitas Al Azhar Kairo Mesir) Tahukah kau kawan, betapa takj...
-
Tidak Ada Orang Kaya Dalam Dunia Kesehatan Perjalanan Panjang UU SJSN Adanya pengeluaran yang tidak terduga apabila seseorang ter...
-
Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkati mereka berdua, dan kiranya Allah meningkatkan kualitas ketu...





