Latest Post
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
07.49
Hasan Al-Banna punya sebuah majelis taklim. Majelis ilmu itu dilaksanakan di sebuah masjid pada malam hari. Jama'ah. pengajian itu semakin hari semakin membludak saja. Maklum, tutur kata ustadz muda itu begitu menyentuh jiwa.
Suatu hari, Hasan Al-Banna merasakan adanya nuansa aneh di majelis taklimnya. Jama'ah pengajiannya duduk berkelompok. Ada dua kelompok besar. Masing-masing mengambil jarak.
Sebelum lagi Hasan Al-Banna memulai acara taklimnya, tiba-tiba sebuah pertanyaan mengejutkannya. Sebenarnya nada pertanyaan itu datar saja, tapi hati Hasan Al-Banna yang begitu peka menangkap sebuah pesan yang besar dalam pertanyaan itu.
"Bagaimana pendapat ustadz mengenai tawassul?" Sang guru yang ditanya terdiam sejenak. Ditatapnya si penanya. Disapunya satu per satu hadirin yang menatapnya dengan raut wajah menunggu.
"Wahai saudaraku," sapa Hasan Al-Banna jernih kepada si penanya. "Saya yakin engkau tidak hanya bertanya tentang tawasul saja. Engkau juga ingin bertanya tentang membaca salawat setelah azan, membaca Al Kahfi di hari Jumat, mengucap kata sayyidina dalam tasyahud, juga tentang membaca Alquran yang pahalanya ditujukan untuk mayit seseorang."
Jama'ah majelis taklim itu kaget. Guru mereka bisa membaca isi pikiran mereka. Dan Hasan Al-Banna memang sengaja mengungkap beberapa masalah khilafiyah yang sedang mereka ributkan. Masalah itulah yang membuat murid-muridnya duduk berkelompok-kelompok.
"Ya, benar. Saya memang ingin jawaban tentang itu semua," ujar si penanya tadi. Hasan Al-Banna menatapnya lembut. "Wahai saudaraku, saya ini bukan ulama. Hanya guru biasa yang hafal sebagian ayat-ayat Alquran, hadits, dan hukum-hukum agama yang saya baca dari beberapa kitab, lalu saya mengajarkannya kepada kalian. Jika engkau membawaku keluar dari lingkup itu, berarti kalian telah membuatku mengalami kesulitan," ungkap Hasan Al-Banna jujur.
"Oleh karenanya, jika apa yang akan saya katakan dapat memuaskanmu, itulah yang saya inginkan dan silakan mendengarkan. Namun, jika engkau menginginkan jawaban dan pengetahuan yang lebih luas, maka tanyakanlah kepada selainku. Tanyakan kepada para ulama yang ahli. Merekalah yang mampu memberikan fatwa kepadamu mengenai apa yang engkau inginkan itu. Adapun saya, hanya inilah kapasitas keilmuan yang saya miliki. Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sebatas kesanggupannya," lanjut Hasan Al-Banna.
Rupanya, ungkapan merendah Hasan Al-Banna itu berhasil mencairkan suasana kaku yang tercipta di antara hadirin. Mereka tampak lega dengan apa yang dikatakan guru mereka.
Melihatnya, diam-diam Hasan Al-Banna bertahmid kepada Allah swt. Nalurinya sebagai pendidik tergugah. Ini saat yang tepat untuk memberi pelajaran yang lebih kepada murid-muridnya.
"Wahai saudaraku sekalian, saya sebenarnya tahu betul kemana arah pertanyaan tadi. Kalian ingin tahu saya ini termasuk kelompok Syeikh Musa atau Syeikh Sami. Ketahuilah, hal ini sama sekali tak bermanfaat bagi kalian. Kalian sudah tenggelam dalam iklim fitnah selama selama delapan tahun ini. Itu sudah cukup, " ucap Hasan Al-Banna memecah di keheningan masjid.
"Masalah-masalah yang kalian perselisihkan sebenarnya sudah diperselisihkan oleh kaum muslimin selama ratusan tahun lamanya. Dan mereka masih saja berselisih. Meski demikian Allah swt. tetap ridha apabila kita saling mencintai dan saling menjalin persatuan. Allah swt. benci apabila kita berselisih dan berpecah belah. Oleh karena itu, saya berharap, kalian bisa berjanji kepada Allah untuk meninggalkan persoalan-persoalan semacam ini sekarang. Lalu kita bersungguh-sungguh untuk bersama-sama mempelajari dasar-dasar agama dan kaidah-kaidahnya, mengamalkan anjuran anjuran agama yang kita sepakati bersama, serta kita amalkan kewajiban-kewajiban dan sunah-sunahnya sekaligus. Kita tinggalkan sikap takalluf (mengada-ada) dan ta'ammuq (terlalu dalam menyelami persoalan) agar jiwa kita jernih. Dengan begitu, kita semua bisa mempelajari berbagai persoalan dalam naungan rasa cinta, saling percaya, persatuan, dan keikhlasan. Saya berharap agar kalian dapat menerima pendapatku ini dan agar hal ini menjadi suatu janji di antara kita," tutur Hasan Al-Banna panjang dan mendalam. Semua terdiam. Tampaknya mereka butuh contoh konkret atas uraian tadi.
Hasan Al-Banna kembali menghentak keheningan itu.
"Siapa di antara kalian yang bermazhab Hanafi?" Seseorang mengacungkan jari. "Kemari!"
"Siapa di antara kalian yang bermazhab Syafi'i?" Satu orang lagi maju, mendekat ke guru muda itu.
"Saya akan shalat dan mengimami kedua saudara kita ini," kata Al-Banna kepada jama'ah majelis taklimnya.
"Apa yang kamu lakukan saat saya sedang membaca Al-Fatihah?" tanya Hasan Al-Banna kepada muridnya yang mengaku bermazhab Hanafi. "Saya akan diam saja dan tidak membaca apa-apa."
"Saudaraku yang bermazhab Syafi'i, apa yang kamu lakukan?" "Saya tetap harus membaca AlFatihah!" jawabnya tegas. Hadirin mendengar jawaban kedua itu.
Hasan Al-Banna kembali melemparkan pertanyaan. "Jika kita telah selesai shalat, bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Syafi'i, tentang shalat saudaramu yang bermazhab Hanafi?"
"Shalatnya batal karena tidak membaca AlFatihah yang merupakan salah satu rukun shalat."
Hasan Al-Banna melontarkan pertanyaan yang sama ke murid yang satunya lagi. "Lalu bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Hanafi tentang shalat saudaramu yang bermazhab Syafi'i?". "Ia telah melakukan tindakan makruh yang bersifat haram."
Mendengar kedua jawaban itu, Hasan Al-Banna segera mempertajam pertanyaannya. "Apakah karena alasan itu salah seorang dari kalian mengkafirkan yang lain?" "Tidak!" jawab keduanya cepat.
Hasan Al-Banna kemudian berpaling ke seluruh hadirin. "Apakah ada di antara kalian yang mengkafirkan satu dari mereka karena bacaan Al-Fatihahnya?" .
Tidak," kata seluruh jamaah majelis taklim tegas.
"Aduhai, Maha Suci Allah. Kalian bisa diam dan memaklumi permasalahan seperti ini padahal ini menyangkut sah atau batalnya shalat. Tapi, mengapa kalian berselisih tak kunjung usai hanya karena ucapan Allahumma shalli `ala Muhammad atau Allahumma shalli `ala sayyidina Muhammad dalam tasyahud?"
Jama'ah majelis taklim itu tercengang. Ya, mengapa mereka bisa terjebak dalam perselisihan yang tak perlu.
Dan logika sederhana guru mereka telah membongkar tempurung yang menutupi cakrawala berpikir mereka selama ini. Malam itu mereka mendapat pelajaran yang sangat berharga dari guru mereka, Hasan Al-Banna.
*Dari berbagai sumber
LOGIKA SEDERHANA IMAM HASAN AL-BANNA
Written By Rudiya Oktar on Senin, 02 September 2013 | 07.49
Hasan Al-Banna punya sebuah majelis taklim. Majelis ilmu itu dilaksanakan di sebuah masjid pada malam hari. Jama'ah. pengajian itu semakin hari semakin membludak saja. Maklum, tutur kata ustadz muda itu begitu menyentuh jiwa.
Suatu hari, Hasan Al-Banna merasakan adanya nuansa aneh di majelis taklimnya. Jama'ah pengajiannya duduk berkelompok. Ada dua kelompok besar. Masing-masing mengambil jarak.
Sebelum lagi Hasan Al-Banna memulai acara taklimnya, tiba-tiba sebuah pertanyaan mengejutkannya. Sebenarnya nada pertanyaan itu datar saja, tapi hati Hasan Al-Banna yang begitu peka menangkap sebuah pesan yang besar dalam pertanyaan itu.
"Bagaimana pendapat ustadz mengenai tawassul?" Sang guru yang ditanya terdiam sejenak. Ditatapnya si penanya. Disapunya satu per satu hadirin yang menatapnya dengan raut wajah menunggu.
"Wahai saudaraku," sapa Hasan Al-Banna jernih kepada si penanya. "Saya yakin engkau tidak hanya bertanya tentang tawasul saja. Engkau juga ingin bertanya tentang membaca salawat setelah azan, membaca Al Kahfi di hari Jumat, mengucap kata sayyidina dalam tasyahud, juga tentang membaca Alquran yang pahalanya ditujukan untuk mayit seseorang."
Jama'ah majelis taklim itu kaget. Guru mereka bisa membaca isi pikiran mereka. Dan Hasan Al-Banna memang sengaja mengungkap beberapa masalah khilafiyah yang sedang mereka ributkan. Masalah itulah yang membuat murid-muridnya duduk berkelompok-kelompok.
"Ya, benar. Saya memang ingin jawaban tentang itu semua," ujar si penanya tadi. Hasan Al-Banna menatapnya lembut. "Wahai saudaraku, saya ini bukan ulama. Hanya guru biasa yang hafal sebagian ayat-ayat Alquran, hadits, dan hukum-hukum agama yang saya baca dari beberapa kitab, lalu saya mengajarkannya kepada kalian. Jika engkau membawaku keluar dari lingkup itu, berarti kalian telah membuatku mengalami kesulitan," ungkap Hasan Al-Banna jujur.
"Oleh karenanya, jika apa yang akan saya katakan dapat memuaskanmu, itulah yang saya inginkan dan silakan mendengarkan. Namun, jika engkau menginginkan jawaban dan pengetahuan yang lebih luas, maka tanyakanlah kepada selainku. Tanyakan kepada para ulama yang ahli. Merekalah yang mampu memberikan fatwa kepadamu mengenai apa yang engkau inginkan itu. Adapun saya, hanya inilah kapasitas keilmuan yang saya miliki. Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sebatas kesanggupannya," lanjut Hasan Al-Banna.
Rupanya, ungkapan merendah Hasan Al-Banna itu berhasil mencairkan suasana kaku yang tercipta di antara hadirin. Mereka tampak lega dengan apa yang dikatakan guru mereka.
Melihatnya, diam-diam Hasan Al-Banna bertahmid kepada Allah swt. Nalurinya sebagai pendidik tergugah. Ini saat yang tepat untuk memberi pelajaran yang lebih kepada murid-muridnya.
"Wahai saudaraku sekalian, saya sebenarnya tahu betul kemana arah pertanyaan tadi. Kalian ingin tahu saya ini termasuk kelompok Syeikh Musa atau Syeikh Sami. Ketahuilah, hal ini sama sekali tak bermanfaat bagi kalian. Kalian sudah tenggelam dalam iklim fitnah selama selama delapan tahun ini. Itu sudah cukup, " ucap Hasan Al-Banna memecah di keheningan masjid.
"Masalah-masalah yang kalian perselisihkan sebenarnya sudah diperselisihkan oleh kaum muslimin selama ratusan tahun lamanya. Dan mereka masih saja berselisih. Meski demikian Allah swt. tetap ridha apabila kita saling mencintai dan saling menjalin persatuan. Allah swt. benci apabila kita berselisih dan berpecah belah. Oleh karena itu, saya berharap, kalian bisa berjanji kepada Allah untuk meninggalkan persoalan-persoalan semacam ini sekarang. Lalu kita bersungguh-sungguh untuk bersama-sama mempelajari dasar-dasar agama dan kaidah-kaidahnya, mengamalkan anjuran anjuran agama yang kita sepakati bersama, serta kita amalkan kewajiban-kewajiban dan sunah-sunahnya sekaligus. Kita tinggalkan sikap takalluf (mengada-ada) dan ta'ammuq (terlalu dalam menyelami persoalan) agar jiwa kita jernih. Dengan begitu, kita semua bisa mempelajari berbagai persoalan dalam naungan rasa cinta, saling percaya, persatuan, dan keikhlasan. Saya berharap agar kalian dapat menerima pendapatku ini dan agar hal ini menjadi suatu janji di antara kita," tutur Hasan Al-Banna panjang dan mendalam. Semua terdiam. Tampaknya mereka butuh contoh konkret atas uraian tadi.
Hasan Al-Banna kembali menghentak keheningan itu.
"Siapa di antara kalian yang bermazhab Hanafi?" Seseorang mengacungkan jari. "Kemari!"
"Siapa di antara kalian yang bermazhab Syafi'i?" Satu orang lagi maju, mendekat ke guru muda itu.
"Saya akan shalat dan mengimami kedua saudara kita ini," kata Al-Banna kepada jama'ah majelis taklimnya.
"Apa yang kamu lakukan saat saya sedang membaca Al-Fatihah?" tanya Hasan Al-Banna kepada muridnya yang mengaku bermazhab Hanafi. "Saya akan diam saja dan tidak membaca apa-apa."
"Saudaraku yang bermazhab Syafi'i, apa yang kamu lakukan?" "Saya tetap harus membaca AlFatihah!" jawabnya tegas. Hadirin mendengar jawaban kedua itu.
Hasan Al-Banna kembali melemparkan pertanyaan. "Jika kita telah selesai shalat, bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Syafi'i, tentang shalat saudaramu yang bermazhab Hanafi?"
"Shalatnya batal karena tidak membaca AlFatihah yang merupakan salah satu rukun shalat."
Hasan Al-Banna melontarkan pertanyaan yang sama ke murid yang satunya lagi. "Lalu bagaimana pendapatmu, wahai saudaraku yang bermazhab Hanafi tentang shalat saudaramu yang bermazhab Syafi'i?". "Ia telah melakukan tindakan makruh yang bersifat haram."
Mendengar kedua jawaban itu, Hasan Al-Banna segera mempertajam pertanyaannya. "Apakah karena alasan itu salah seorang dari kalian mengkafirkan yang lain?" "Tidak!" jawab keduanya cepat.
Hasan Al-Banna kemudian berpaling ke seluruh hadirin. "Apakah ada di antara kalian yang mengkafirkan satu dari mereka karena bacaan Al-Fatihahnya?" .
Tidak," kata seluruh jamaah majelis taklim tegas.
"Aduhai, Maha Suci Allah. Kalian bisa diam dan memaklumi permasalahan seperti ini padahal ini menyangkut sah atau batalnya shalat. Tapi, mengapa kalian berselisih tak kunjung usai hanya karena ucapan Allahumma shalli `ala Muhammad atau Allahumma shalli `ala sayyidina Muhammad dalam tasyahud?"
Jama'ah majelis taklim itu tercengang. Ya, mengapa mereka bisa terjebak dalam perselisihan yang tak perlu.
Dan logika sederhana guru mereka telah membongkar tempurung yang menutupi cakrawala berpikir mereka selama ini. Malam itu mereka mendapat pelajaran yang sangat berharga dari guru mereka, Hasan Al-Banna.
*Dari berbagai sumber
Label:
TOKOH
05.50
UJE Lahir di Budi Rahayu, 12 April 1973. Ust H. Jefri anak ke 3 dari 5 bersaudara yang ayahnya bernama Alm. H. Ismail Modal dan umminya bernama Ustz Dra. Hj. Tatu Mulyana. Ust Jefri memiliki kakak yang pertama Alm. Ust. H. Abdullah Riyad, kakak kedua Ust. H. Aswan Faisal, adik yang keempat H. Decky Fajar dan yang kelima Ustz Hj. Nona. Ust Jefri menikah dengan Pipik Dian Irawati pada 7 September 1999 dan mempunyai dua anak yang bernama Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, Ayla Azuhro dan Ataya Bilal Rizqullah.
PROFIL USTADZ JEFRI AL BUCHORI
Written By Rudiya Oktar on Jumat, 26 April 2013 | 05.50
UJE Lahir di Budi Rahayu, 12 April 1973. Ust H. Jefri anak ke 3 dari 5 bersaudara yang ayahnya bernama Alm. H. Ismail Modal dan umminya bernama Ustz Dra. Hj. Tatu Mulyana. Ust Jefri memiliki kakak yang pertama Alm. Ust. H. Abdullah Riyad, kakak kedua Ust. H. Aswan Faisal, adik yang keempat H. Decky Fajar dan yang kelima Ustz Hj. Nona. Ust Jefri menikah dengan Pipik Dian Irawati pada 7 September 1999 dan mempunyai dua anak yang bernama Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari, Ayla Azuhro dan Ataya Bilal Rizqullah.
Ketika
masa kecilnya UJE sama seperti anak-anak kecil lainnya, diberikan
anugerah Allah SWT kemudahan dalam mempelajari dan membaca Al-Quran. Hal
ini berkat kerja keras dan bimbingan orang tuanya dalam mendidik
anak-anak agar menjadi soleh dan solehah. Hal ini terbukti pada saat UJE
duduk di bangku sekolah kelas 3-5 SD meraih prestasi MTQ (Musabaqah
Tilawatil Qur’an) sampai tingkat provinsi UJE tamat SD, lalu bersama
kedua kakaknya mengikuti Pesantren Modern di Daar el Qolam Gintung,
Balaraja Tanggerang selama 4 tahun.
UJE
mempunyai dua sisi kepribadiannya pada waktu dulu. Pertama, Uje pada
masa sekolah mengikuti kegiatan rohis atau mengikuti pengajian, Kedua
UJE terbawa arus dengan teman-teman pemakai narkoba juga senang DUGEM.
sampai-sampai UJE juga mengikuti pengajian ngeboat bareng bersama teman
sekolahnya di kantin. Pada tahun 1991 UJE pernah menjadi dancer di salah
satu club. Setelah bertemu salah satu orang yang tak dikenal mengajak
UJE untuk bermain sinteron dan akhirnya mendapatkan prestasi terbaik
menjadi aktor dalam sinteron Sayap Patah di TVRI.
Hal
yang menyadarkan UJE dari kehidupan semu, ketika UJE diajak umroh
beserta ibunda juga bersama kakaknya untuk bertobat dan pada akhirnya
setelah bersandar di Ka’bah dan membentur-benturkan kepalanya sampai UJE
menangis, meminta ampun kepada Allah SWT supaya bisa di ampuni
dosa-dosanya yang selama ini dilakukan. berawal dari usaha pertobatan,
UJE sempat mendapatkan amanah dari kakak tertuanya alm. Ust. H. Abdullah
Riyad, untuk melanjutkan Dakwah kakaknya di Jakarta, karena alm Ust. H.
Abdullah Riyad mendapatkan kepercayaan dari MUIS (Majlis Ugame Islam
Singapura) untuk menjadi Imam besar di Masjid Haji Mohammad Soleh,
bersebelahan dengan Maqam Habib Nuh Al Habsyi, Palmer Road, Singapura.
Dari situlah UJE mulai berdakwah lewat majelis taklim, mushola, mesjid
dan perlahan-lahan bisa seperti sekarang ini, dikenal oleh masyrakat
banyak dikagumi oleh seluruh kalangan.
Dari
proses yang sangat sulit, UJE akhirnya bisa berubah secara perlahan
atas dukungan, kesabaran, ketabahan dari orang-orang disekelilingnya
yang selalu mendampinginya. Selain itu hidayah Allah SWT. serta
bimbinganNya, UJE bisa merasa tenang dalam kehidupannya untuk mulai
mencintai Allah SWT, Rasulullah SAW, Orang Tua dan mencintai sesamanya.
www.ujecentre.com
Label:
TOKOH
06.45
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Written By Rudiya Oktar on Kamis, 11 April 2013 | 06.45
(1115
- 1206 H/1701 - 1793 M)
Nama
Lengkapnya
BELIAU
adalah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin `Abdul Wahab bin Sulaiman bin
Ali bin Muhammad bin Ahmad bin
Rasyid
bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi.
Tempat
dan Tarikh Lahirnya
Syeikh
Muhammad bin `Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung
`Uyainah (Najd), lebih kurang 70 km arah
barat
laut kota Riyadh, ibukota Arab Saudi sekarang.
Beliau
meninggal dunia pada 29 Syawal 1206 H (1793 M) dalam usia 92 tahun, setelah
mengabdikan diri selama lebih 46 tahun dalam
memangku
jawatan sebagai menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi .
Pendidikan
dan Pengalamannya
Syeikh
Muhammad bin `Abdul Wahab berkembang dan dibesarkan dalam kalangan keluarga
terpelajar. Ayahnya adalah ketua jabatan
agama
setempat. Sedangkan kakeknya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana
masyarakat Najd menanyakan segala
sesuatu
masalah yang bersangkutan dengan agama. Oleh karena itu, kita tidaklah hairan
apabila kelak beliau juga menjadi seorang
ulama
besar seperti datuknya.
Sebagaimana
lazimnya keluarga ulama, maka Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab sejak masih
kanak-kanak telah dididik dan
ditempa
jiwanya dengan pendidikan agama, yang diajar sendiri oleh ayahnya, Syeikh
`Abdul Wahhab.
Sejak
kecil lagi Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab sudah kelihatan tanda-tanda
kecerdasannya. Beliau tidak suka membuang masa
dengan
sia-sia seperti kebiasaan tingkah laku kebanyakan kanak-kanak lain yang sebaya
dengannya.
Berkat
bimbingan kedua ibu-bapaknya, ditambah dengan kecerdasan otak dan kerajinannya,
Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab
telah
berjaya menghafal al-Qur’an 30 juz sebelum berusia sepuluh tahun.
Setelah
beliau belajar pada orantuanya tentang beberapa bidang pengajian dasar yang
meliputi bahasa dan agama, beliau diserahkan
oleh
ibu-bapaknya kepada para ulama setempat sebelum dikirim oleh ibu-bapaknya ke
luar daerah.
Tentang
ketajaman fikirannya, saudaranya Sulaiman bin `Abdul Wahab pernah menceritakan
begini:
"Bahwa
ayah mereka, Syeikh `Abdul Wahab merasa sangat kagum atas kecerdasan Muhammad,
padahal ia masih di bawah umur.
Beliau
berkata: `Sungguh aku telah banyak mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan
anakku Muhammad, terutama di bidang ilmu
Fiqh.’
"
Syeikh
Muhammad mempunyai daya kecerdasan dan ingatan yang kuat, sehingga apa saja
yang dipelajarinya dapat difahaminya
dengan
cepat sekali, kemudian apa yang telah dihafalnya tidak mudah pula hilang dalam
ingatannya. Demikianlah keadaannya,
sehingga
kawan-kawan sepermainannya kagum dan heran kepadanya.
Belajar
di Makkah, Madinah dan Basrah
Setelah
mencapai usia dewasa, Syeikh Muhammad bin `Abdul Wahab diajak oleh ayahnya
untuk bersama-sama pergi ke tanah suci
Mekah
untuk menunaikan rukun Islam yang kelima - mengerjakan haji di Baitullah. Dan
manakala telah selesai menunaikan ibadah
haji,
ayahnya terus kembali ke kampung halamannya. Adapun Muhammad, ia tidak pulang,
tetapi terus tinggal di Mekah selama
beberapa
waktu, kemudian berpindah pula ke Madinah untuk melanjutkan pengajiannya di
sana.
Di
Madinah, beliau berguru pada dua orang ulama besar dan termasyhur di waktu itu.
Kedua-dua ulama tersebut sangat berjasa dalam
membentuk
pemikirannya, yaitu Syeikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syeikh
Muhammad Hayah al-Sindi.
Selama
berada di Madinah, beliau sangat prihatin menyaksikan ramai umat Islam setempat
maupun penziarah dari luar kota Madinah
yang
telah melakukan perbuatan-perbuatan tidak kesyirikan dan tidak sepatutnya
dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya Muslim.
Beliau
melihat ramai umat yang berziarah ke maqam Nabi mahupun ke maqam-maqam lainnya
untuk memohon syafaat, bahkan
meminta
sesuatu hajat pada kuburan mahupun penghuninya, yang mana hal ini sama sekali
tidak dibenarkan oleh agama Islam. Apa
yang
disaksikannya itu menurut Syeikh Muhammad adalah sangat bertentangan dengan
ajaran Islam yang sebenarnya.
Kesemua
inilah yang semakin mendorong Syeikh Muhammad untuk lebih mendalami
pengkajiannya tentang ilmu ketauhidan yang
murni,
yakni Aqidah Salafiyah. Bersamaan dengan itu beliau berjanji pada dirinya
sendiri, bahwa pada suatu ketika nanti, beliau akan
mengadakan
perbaikan (Islah) dan pembaharuan (Tajdid) dalam masalah yang berkaitan dengan
ketauhidan, yaitu mengembalikan
www.rajaebookgratis.com
http://rajaebookgratis.wordpress.com
32
aqidah
umat kepada sebersih-bersihnya tauhid yang jauh dari khurafat, tahyul dan
bid’ah. Untuk itu, beliau mesti mendalami benarbenar
tentang
aqidah ini melalui kitab-kitab hasil karya ulama-ulama besar di abad-abad yang
silam.
Di
antara karya-karya ulama terdahulu yang paling terkesan dalam jiwanya adalah
karya-karya Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah. Beliau
adalah
mujaddid besar abad ke 7 Hijriyah yang sangat terkenal.
Demikianlah
meresapnya pengaruh dan gaya Ibnu Taimiyah dalam jiwanya, sehingga Syeikh
Muhammad bin `Abdul Wahab bagaikan
duplikat(salinan)
Ibnu Taimiyah. Khususnya dalam aspek ketauhidan, seakan-akan semua yang
diidam-idamkan oleh Ibnu Taimiyah
semasa
hidupnya yang penuh ranjau dan tekanan dari pihak berkuasa, semuanya telah
ditebus dengan kejayaan Ibnu `Abdul Wahab
yang
hidup pada abad ke 12 Hijriyah itu.
Setelah
beberapa lama menetap di Mekah dan Madinah, kemudian beliau berpindah ke
Basrah. Di sini beliau bermukim lebih lama,
sehingga
banyak ilmu-ilmu yang diperolehinya, terutaman di bidang hadith
danmusthalahnya, fiqh dan usul fiqhnya, gramatika (ilmu
qawa’id)
dan tidak ketinggalan pula lughatnya semua.
Lengkaplah
sudah ilmu yang diperlukan oleh seorang yang pintar yang kemudian dikembangkan
sendiri melalui metode otodidak
(belajar
sendiri) sebagaimana lazimnya para ulama besar Islam mengembangkan
ilmu-ilmunya. Di mana bimbingan guru hanyalah
sebagai
modal dasar yang selanjutnya untuk dapat dikembangkan dan digali sendiri oleh
yang bersangkutan.
Mulai
Berdakwah
Syeikh
Muhammad bin `Abdul Wahab memulai dakwahnya di Basrah, tempat di mana beliau
bermukim untuk menuntut ilmu ketika
itu.
Akan tetapi dakwahnya di sana kurang bersinar, karena menemui banyak rintangan
dan halangan dari kalangan para ulama
setempat.
Di
antara pendukung dakwahnya di kota Basrah ialah seorang ulama yang bernama
Syeikh Muhammad al-Majmu’i. Tetapi Syeikh
Muhammad
bin `Abdul Wahab bersama pendukungnya mendapat tekanan dan ancaman dari
sebagian ulama yang sesat, yaitu ulama
jahat
yang memusuhi dakwahnya di sana; keduanya diancam akan dibunuh. Akhirnya beliau
meninggalkan Basrah dan mengembara
ke
beberapa negeri Islam untuk menyebarkan ilmu dan pengalamannya.
Di
samping mempelajari keadaan negeri-negeri Islam tetangga, demi kepentingan
dakwahnya di masa akan datang, dan setelah
menjelajahi
beberapa negeri Islam, beliau lalu kembali ke al-Ihsa menemui gurunya Syeikh
Abdullah bin `Abd Latif al-Ihsai untuk
mendalami
beberapa bidang pengajian tertentu yang selama ini belum sempat didalaminya.
Di
sana beliau bermukim untuk beberapa waktu, dan kemudian beliau kembali ke
kampung asalnya 'Uyainah, tetapi tidak lama
kemudian
beliau menyusul orang tuanya yang merupakan bekas ketua jabatan urusan agama
'Uyainah ke Haryamla, yaitu suatu tempat
di
daerah Uyainah juga.
Adalah
dikatakan bahwa di antara orang tua Syeikh Muhammad dan pihak berkuasa Uyainah
berlaku perselisihan pendapat, yang oleh
karena
itulah orang tua Syeikh Muhammad terpaksa berhijrah ke Haryamla pada tahun 1139
H.
Setelah
perpindahan ayahnya ke Haryamla kira-kira setahun, barulah Syeikh Muhammad
menyusulnya pada tahun 1140 H. Kemudian,
beliau
bersama ayahnya itu mengembangkan ilmu dan mengajar serta berdakwah selama
lebih kurang 13 tahun lamanya, sehingga
ayahnya
meninggal dunia di sana pada tahun 1153.
Setelah
tiga belas tahun menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar di Haryamla, beliau
mengajak pihak Penguasa setempat untuk
bertindak
tegas terhadap gerombolan penjahat yang selalu melakukan kerusuhan, merampas,
merampok serta melakukan pembunuhan.
Maka
gerombolan tersebut tidak senang kepada Syeikh Muhammad, lalu mereka mengancam
hendak membunuhnya. Syeikh
Muhammad
terpaksa meninggalkan Haryamla, berhijrah ke Uyainah tempat ayahnya dan beliau
sendiri dilahirkan.
KEADAAN
NEGERI NAJD, HIJAZ DAN SEKITARNYA
KEADAAN
negeri Najd, Hijaz dan sekitarnya semasa awal pergerakan tauhid amatlah
buruknya. Krisis Aqidah dan akhlak serta
merosotnya
tata nilai sosial, ekonomi dan politik sudah mencapai titik kulminasi. Semua
itu adalah akibat penjajahan bangsa Turki
yang
berpanjangan terhadap bangsa dan Jazirah Arab, di mana tanah Najd dan Hijaz
adalah termasuk jajahannya, di bawah penguasaan
Sultan
Muhammad Ali Pasya yang dilantik oleh Khalifah di Turki (Istanbul) sebagai
Gubenur Jenderal untuk daerah koloni di kawasan
Timur
Tengah, yang berkedudukan di Mesir.
Pemerintahan
Turki Raya pada waktu itu mempunyai daerah kekuasaan yang cukup luas.
Pemerintahannya berpusat di Istanbul
(Turki),
yang begitu jauh dari daerah jajahannya. Kekuasaan dan pengendalian khalifah
mahupun sultan-sultannya untuk daerah yang
jauh
dari pusat, sudah mulai lemah dan kendur disebabkan oleh kekacauan di dalam
negeri dan kelemahan di pihak khalifah dan para
sultannya.
Disamping
itu, adanya cita-cita dari amir-amir di negeri Arab untuk melepaskan diri dari
kekuasaan pemerintah pusat yang
berkedudukan
di Turki. Ditambah lagi dengan hasutan dari bangsa Barat, terutama penjajah tua
yaitu Inggris dan Perancis yang
menghasut
bangsa Arab dan umat Islam supaya berjuang merebut kemerdekaan dari bangsa
Turki, hal mana sebenarnya hanyalah
tipudaya
untuk memudahkan kaum penjajah tersebut menanamkan pengaruhnya di kawasan itu,
kemudian mencengkeramkan kuku penjajahannya di sana.
Label:
TOKOH
06.41
Sa’id Hawwa, Dai Yang Kental Spiritual
Sakinah-online, Dia
adalah Syaikh Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa. Dilahirkan di kota Hamat, Suriyah
pada tahun 1935 M.
Ibunya
meninggal dunia ketika usianya baru 2 tahun, lalu diasuh oleh neneknya. Di
bawah bimbingan bapaknya yang termasuk salah
seorang
mujahidin pemberani melawan penjajah Perancis, Sa’id Hawwa muda berinteraksi
dengan pemikiran kaum sosialis,
nasionalis,
Ba’tsi dan Ikhwanul Muslimin. Tetapi akhirnya Alloh memilihkan kebaikan
untuknya untuk bergabung dengan ke dalam
Jama’ah
Ikhwanul Muslimin pada tahun 1952 M, ketika masih dudul di kelas satu SMA.
Menyelesaikan
studinya di universitas pada tahun 1961 M, lalu mengikuti khidmah ‘askariyah
(pendidikan militer) pada tahun 1963
M
hingga menjadi perwira cadangan. Menikah pada tahun 1964 M, dan dikaruniai
empat orang anak.
Ia
memberikan ceramah, khutbah, dan mengajar di Syuriah,Saudia, Kuwait, Emirat,
Iraq, Yordania, Mesir,Qathar, Pakistan ,
Amerika,
dan Jerman . Juga terlibat dalam peristiwa ‘Dustur’ di Suriyah tahun 1973 M.
hingga dipenjara selama lima tahun sejak
5/3/1973-29/1/1981.
Selama di penjara, ia menulis kitab al-Asas fi at-Tafsir (11 jilid) dan
beberapa buku dakwah lainnya.
Pernah
diamanahi jabatan pimpinan dalam organisasi Ikhwanul Muslimin di tingkat
regional dan internasional. Aktif terlibat dalam
berbagai
aktifitas dakwah, politik dan jihad. Pada tahun 1987 M terserang sejenis
penyakit parkinson disamping penyakit-penyakit
lainnya,
hingga terpaksa harus melakukan uzlah. Pada hari Kamis tanggal 9/3/1989 M, ia
meninggal dunia di rumah sakit Islam di
Amman.
Uztadz
Zuhair asy-Syawisy di dalam harian al-Liwa’ yang terbit di Yordania, edisi
15/3/`989 M, berkata tentang Sa’id Hawwa:
“
…Alloh telah mentaqdirkan dan tidak ada yang dapat menolak ketentuan-Nya.
Berakhirlah kehidupan Sa’id bin Muhammad Daib
Hawwa
di rumah sakit Islam Amman siang hari Kamis, awal Sya’ban yang agung 1409 H
bertepatan 9/3/1989 M. Dishalatkan setelah
shalat
Jumat oleh ribuan jamaah di masjid al-Faiha’ di asy-Syaibani. Dikuburkan di
kuburan Sahab selatan Amman. Penguburan
jenazahnya
dihadiri oleh banyak orang. Ikut memberikan kata sambutan dalam penguburan
jenazah, diantaranya ustadz Yusuf al-
Adzam,Syaikh
Ali al-Faqir, penyair Abul Hasan, Syaikh Abdul Jalil Razuq, ustadz Faruq al –
Masyuh, dan sastrawan ustadz Abdullah
Thanthawi.
Sungguh simpati penduduk Yordania yang kedermawanan mereka kepada orang-orang
hidup yang tinggal di negeri
mereka…Kedermawanan
dengan tangan dan kebaikan dalam ucapan.
Sesungguhnya
Sa’id Hawwa termasuk da’I paling sukses yang pernah saya kenal atau pernah saya
baca tentang mereka, karena ia
mampu
menyampikan pandangan dan pengetahuan yang dimilikinya kepada banyak orabg. Ia
meninggal dunia dalam usia yang relatif
muda,
belum melewati usia 53 tahun. Tetapi ia telah meninggalkan karya tulis yang
cukup banyak, sehingga oleh banyak orang
dimasukkan
ke dalam kategori para penulis kontemporer yang produktif. Adanya perbedaan
penilaian tentang buku-bukunya tidak
akan
mengubah hakikat ini sama sekali. Saya pernah mengkaji pandangan-pandangannya
yang tertuang dalam berbagai bukunya.
Sekalipun
pandangan saya demikian ‘membantai’ dan bahasa saya sangat melukai, tetapi ia
selalu menerimanya dengan lapang dada.
Saya
pernah mengunjunginya di al-Ahsa’ ketika ia menjadi pengajar di al-Ma’had
al-‘Ilmi. Saya tidak menemukan perabot di
rumahnya
kecuali sesuatu yang dapat memenuhi keperluan seorang yang hidup sederhana.
Juga tidak saya temukan pakaian yang
layak
dipakai oleh ulama’ dan pengajar di negeri yang panas itu. Baju jubah yang
dipakainya dari buatan Hamat yang kasar. Saya terus
mendesaknya
hingga ia mau memakai beberapa pakaian putih dan ‘aba’ah (baju luaran) yang
layak bagi orang seperti dirinya, tetapi ia
mensyaratkan
agar tidak terlalu longgar. Sedangkan makanannya, tidak lebih baik dari pakaian
dan perabot rumahnya. Termasuk
dalam
kategori ini adalah sikapnya yang ‘mudah’ kepada orang-orang yang menerbitkan
buku-bukunya baik yang telah mendapatkan
izinnya
atau tidak. Buku-bukunya telah dicetak berulang-ulang—dengan cara halal dan
haram --, tetapi saya tidak pernah mendengar
ia
mempersoalkan hal tersebut. Ini termasuk bagian dari zuhudnya. Sesungguhnya
akhlaq dan toleransi Sa’id Hawwa ini merupakan
kebanggan
dan teladan bagi orang lain. Inilah kesaksian yang dapat saya sampaikan.”
Sa’id
Hawwa adalah seorang yang berpotensi besar, dinamis, dan pendobrak. Ia tidak
pernah kenal menyerah dan bosan. Punya
pengalaman
dan kepiawian dalam penulisan. Bisa menyelesaikan satu buku dalam beberapa
hari. Punya kecenderungan ruhiyah yang
kental,
bahkan terkadang sangat mendominasi. Rasa malu, kelembutan, dan kebaikan
hatinya terkadang membuatnya lebih
mengutamakan
sikap diam dalam sebagian persoalan yang menuntut musharahah (keterusterangan).
Kami
merasa gembira dapat mengunjunginya berkali-kali di Kuwait. Ia menghadiri
nadwah (seminar) pekanan yang kami
selenggarakan
setiap Jumat sore. Ia ikut berbicara dalam seminar itu dengan pembicaraan yang
sangat memikat hati. Tema utama
pembicaraannya
berkisar tentang manhaj Imam Hasan Al- Banna dalam memanfaatkan potensi
kebaikan yang ada pada diri manusia.
Para
da’I harus bisa meningkatkan potensi kebaikan pada jiwa manusia. Mereka harus
berbicara kepada hati yang merupakan kunci
hidayah.
Jiwa semua manusia mengandung potensi kebaikan dan potensi kejahatan, tetapi
dengan tingkatan berlainan. Apabila Alloh
telah
memberi taufiq kepada kita untuk meningkatkan potensi kebaikan pada jiwa
manusia maka hal ini berarti kita telah mengurangi
potensi
keburukan yang ada padanya, karena tazkiyatun nafs merupakan kunci untuk
meluruskan suluk (perilaku).
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanNya), maka Alloh
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa
itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya. “ (asy-Syams:7-10).
(Diambil
dari buku Mensucikan Jiwa - Said Hawwa- terbitan Robbani Press)
Label:
TOKOH
MENU LASKAR PENA SUKOWATI
- CERITA KITA (7)
- GALERY FOTO (9)
- GORESAN PENAKU (10)
- Kegiatan Kita (4)
- KISAH (4)
- KOLOM ABG (1)
- KOLOM ANIS MATTA (6)
- NEWS (34)
- posting terbaru (5)
- SAINS (1)
- SASTRA (2)
- TOKOH (20)
- TSAQOFAH ISLAMIYAH (2)
- WIRAUSAHA (6)
- ZONA MUSLIMAH (3)
KAPAL MAINAN
PEMESANAN 081364021104
FADHLAN FURNITURE
Melayani desain dan pemesanan mebel interior. CP 081364021104
Entri Populer
-
Kelompok hewan tidak bertulang belakang (invertebrata) merupakan kelompok hewan yang paling banyak di muka bumi, hampir 2 juta jenis ya...
-
Bismillah.. Hari ini Jum'at 5 April 2013 tepat pukul 02.00 dini hari nanti waktu mesir. Semua Team KNRP akan berangkat dar...
-
Oleh : Ayatul Huda (Mahasiswi jurusan syari'ah islamiyah universitas Al Azhar Kairo Mesir) Tahukah kau kawan, betapa takj...
-
Tidak Ada Orang Kaya Dalam Dunia Kesehatan Perjalanan Panjang UU SJSN Adanya pengeluaran yang tidak terduga apabila seseorang ter...
-
Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkati mereka berdua, dan kiranya Allah meningkatkan kualitas ketu...

